Tag: Liverpool

  • Selalu Kalah Lawan Liverpool, Apakah Xabi Alonso Belum Move On dari The Reds?

    Selalu Kalah Lawan Liverpool, Apakah Xabi Alonso Belum Move On dari The Reds?

    Bagi para penggemar sepak bola, Xabi Alonso bukan sekadar nama. Ia adalah simbol elegansi di lini tengah, seorang maestro yang pernah mengendalikan ritme permainan Liverpool di era pertengahan 2000-an. Namun kini, setiap kali tim asuhannya berhadapan dengan The Reds, seolah ada satu pola yang terus berulang — kekalahan.
    Pertanyaannya pun muncul: apakah ini sekadar kebetulan taktis, atau ada sesuatu yang lebih emosional di baliknya?


    Kenangan Manis di Anfield

    Selalu Kalah Lawan Liverpool, Apakah Xabi Alonso Belum Move On dari The Reds?

    Xabi Alonso bergabung dengan Liverpool pada 2004 di bawah asuhan Rafael Benítez. Bersama Steven Gerrard, ia membentuk duet yang menakutkan di lini tengah dan menjadi bagian penting dari kisah epik Istanbul 2005 — ketika Liverpool menaklukkan AC Milan dalam final Liga Champions yang legendaris.
    Kenangan itu begitu melekat, bukan hanya bagi fans, tapi juga bagi Alonso sendiri. Ia kerap menyebut Anfield sebagai “tempat spesial” dalam berbagai wawancara. Dalam dirinya, darah merah Liverpool tampaknya masih mengalir.


    Kutukan Lawan Mantan

    Namun begitu Alonso beralih ke kursi pelatih, kisahnya melawan Liverpool selalu berujung pahit. Entah bersama Real Sociedad B atau kini Bayer Leverkusen, setiap pertemuan dengan The Reds terasa berat.
    Liverpool selalu tampil seolah memiliki “kode genetik” untuk menaklukkan Alonso — bukan karena ia pelatih yang buruk, tetapi mungkin karena hati kecilnya tak benar-benar ingin menyakiti mantan klubnya.

    Dalam beberapa laga, terlihat bagaimana Alonso tetap menunjukkan respek luar biasa. Tidak ada selebrasi berlebihan, tidak ada provokasi. Justru ada senyum tipis dan tepukan tangan kecil ke arah pendukung Liverpool. Sebuah gestur yang bagi sebagian orang, terasa seperti nostalgia — bukan rivalitas.


    Aspek Taktis vs Emosional

    Secara taktis, Xabi Alonso dikenal sebagai pelatih yang disiplin, dengan filosofi kontrol bola dan struktur permainan yang rapi. Namun saat menghadapi Liverpool, gaya menyerangnya sering kali terlalu berhati-hati.
    Apakah ini karena taktik Klopp yang sulit dibaca, atau karena Alonso terlalu menghormati mantan timnya? Di sinilah perdebatan muncul. Beberapa pengamat menilai Alonso tampak sedikit “terpaku” ketika berhadapan dengan atmosfer Anfield, seolah kenangan masa lalu menahan naluri kompetitifnya.


    Cinta yang Belum Usai

    Sulit menafikan bahwa Liverpool adalah bagian penting dalam perjalanan hidup Alonso. Bahkan setelah bertahun-tahun pergi — dari Real Madrid hingga menjadi pelatih sukses di Leverkusen — ia masih sering menyebut nama The Reds dengan nada hangat.
    Jadi, mungkin benar kata orang: ada cinta yang tak pernah benar-benar berakhir, hanya berpindah bentuk.


    Kesimpulan: Antara Profesionalisme dan Nostalgia

    Xabi Alonso tetaplah sosok profesional. Ia pelatih berbakat dengan masa depan cerah, mungkin calon pelatih besar di masa depan — termasuk, siapa tahu, kembali ke Liverpool sebagai manajer.
    Namun selama itu belum terjadi, setiap kali Alonso melawan Liverpool, bayang-bayang masa lalunya di Anfield akan terus mengikuti.
    Dan setiap kekalahan mungkin bukan tanda kelemahan taktik, tapi cerminan dari hati yang belum sepenuhnya move on dari The Reds.

  • Pemain yang Pernah Membela Liverpool dan Real Madrid: Dari Owen hingga Trent Alexander-Arnold

    Pemain yang Pernah Membela Liverpool dan Real Madrid: Dari Owen hingga Trent Alexander-Arnold

    Kedua klub raksasa Eropa, Liverpool dan Real Madrid, memiliki sejarah panjang dan kejayaan di kancah sepak bola dunia. Meski berasal dari dua negara dengan kultur sepak bola berbeda — Inggris dan Spanyol — keduanya kerap bersaing dalam perebutan trofi paling bergengsi, seperti Liga Champions. Namun menariknya, ada beberapa pemain yang pernah merasakan atmosfer kedua klub ini, dari era awal 2000-an hingga masa kini. Nama-nama seperti Michael Owen, Xabi Alonso, Nuri Şahin, Álvaro Arbeloa, hingga Trent Alexander-Arnold menjadi bagian dari hubungan unik antara dua tim elit ini.


    1. Michael Owen: Dari Anak Emas Liverpool ke Santiago Bernabéu

    Pemain yang Pernah Membela Liverpool dan Real Madrid

    Michael Owen adalah sosok yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah Liverpool. Lulusan akademi klub ini tampil gemilang di akhir 1990-an hingga awal 2000-an. Dengan kecepatan, insting tajam, dan kemampuan finishing yang luar biasa, Owen menjadi top skor Liverpool dan bahkan memenangkan Ballon d’Or 2001 setelah membawa The Reds menjuarai Piala FA, Piala Liga, dan Piala UEFA.

    Namun pada musim panas 2004, Owen membuat keputusan mengejutkan: bergabung dengan Real Madrid. Los Blancos kala itu sedang dalam proyek “Galácticos”, mengumpulkan bintang-bintang seperti Zidane, Figo, Beckham, dan Ronaldo. Sayangnya, karier Owen di Spanyol tak secerah di Inggris. Meskipun mencetak 16 gol dari 45 pertandingan, ia sulit menembus tim utama karena persaingan ketat di lini depan. Setahun kemudian, ia kembali ke Inggris bersama Newcastle United.

    Meski masa baktinya di Madrid singkat, Owen tetap dikenang sebagai simbol pemain Inggris yang berani mencoba peruntungan di La Liga — sebuah langkah langka kala itu.


    2. Xabi Alonso: Maestro Lini Tengah yang Jadi Legenda di Dua Klub

    Pemain yang Pernah Membela Liverpool dan Real Madrid

    Jika ada pemain yang benar-benar sukses di kedua klub, nama Xabi Alonso menempati posisi teratas. Gelandang elegan asal Spanyol ini bergabung dengan Liverpool pada 2004 setelah tampil mengesankan bersama Real Sociedad. Di bawah asuhan Rafael Benítez, Alonso menjadi otak permainan The Reds, terkenal dengan umpan jarak jauhnya yang akurat dan visi bermain luar biasa.

    Momen paling bersejarahnya tentu terjadi di final Liga Champions 2005 di Istanbul, ketika Liverpool bangkit dari ketertinggalan 0–3 melawan AC Milan. Alonso mencetak gol penyama kedudukan lewat penalti yang gagal namun langsung disambar, dan akhirnya membantu Liverpool juara lewat adu penalti.

    Pada tahun 2009, Alonso pindah ke Real Madrid dengan banderol sekitar €30 juta. Di sana, ia menjadi bagian penting dari era kebangkitan Los Blancos di bawah José Mourinho dan Carlo Ancelotti. Ia turut membawa Real Madrid menjuarai Liga Champions 2014, yang dikenal dengan “La Décima” — trofi ke-10 Madrid di kompetisi tersebut.
    Dengan karier gemilang di kedua klub, Alonso dikenang bukan hanya sebagai pemain hebat, tetapi juga sebagai simbol profesionalisme dan kecerdasan taktis.


    3. Álvaro Arbeloa: Bek Serba Bisa yang Setia dengan Klub Besar

    Pemain yang Pernah Membela Liverpool dan Real Madrid

    Álvaro Arbeloa mungkin tidak setenar Owen atau Alonso, tetapi kontribusinya di kedua klub tidak bisa diabaikan. Produk akademi Real Madrid ini sempat kesulitan menembus tim utama, hingga pada tahun 2007 ia pindah ke Liverpool. Di bawah asuhan Rafael Benítez, Arbeloa menjadi andalan di posisi bek kanan dan terkadang bek kiri, berkat kedisiplinan dan kemampuan bertahan yang solid.

    Setelah tampil impresif selama dua musim di Anfield, Arbeloa kembali ke Real Madrid pada 2009. Di Bernabéu, ia berkembang menjadi pemain penting selama era Mourinho, menjadi bagian dari skuat yang memenangkan La Liga 2012 dan Liga Champions 2014. Arbeloa juga dikenal karena loyalitasnya terhadap klub dan rekan setim, terutama hubungannya yang erat dengan rekan senegaranya seperti Alonso dan Casillas.


    4. Nuri Şahin: Talenta yang Tak Sempat Bersinar di Dua Klub

    Pemain yang Pernah Membela Liverpool dan Real Madrid

    Nuri Şahin, gelandang asal Turki-Jerman, adalah contoh bagaimana bakat besar bisa terhambat oleh cedera dan nasib kurang baik. Setelah tampil luar biasa bersama Borussia Dortmund dan memenangkan Bundesliga 2011, Real Madrid memboyongnya dengan harapan besar. Namun cedera berkepanjangan membuatnya gagal beradaptasi di Spanyol.

    Untuk mencari menit bermain, Şahin kemudian dipinjamkan ke Liverpool pada musim 2012/13. Sayangnya, kariernya di Inggris juga tak berjalan mulus. Meskipun sempat mencetak beberapa gol penting, ia kesulitan mendapatkan posisi ideal di bawah manajer Brendan Rodgers. Setelah setengah musim, ia kembali ke Dortmund.

    Walau singkat, kiprah Şahin di dua klub besar itu menjadi pengingat bahwa terkadang bakat besar membutuhkan waktu dan tempat yang tepat untuk berkembang.


    5. Trent Alexander-Arnold: Ikon Modern Liverpool dengan Koneksi ke Madrid

    Pemain yang Pernah Membela Liverpool dan Real Madrid

    Nama Trent Alexander-Arnold mungkin mengejutkan jika disebut dalam daftar ini, karena ia belum pernah bermain untuk Real Madrid. Namun, dalam konteks modern, hubungan antara dirinya dan klub Spanyol itu cukup menarik. Trent beberapa kali menghadapi Real Madrid di ajang Liga Champions, termasuk final 2018 dan 2022, di mana Liverpool harus menelan kekalahan.

    Sebagai bek kanan dengan kemampuan menyerang luar biasa, Trent sering dibandingkan dengan legenda seperti Dani Carvajal dari Madrid. Spekulasi media Spanyol bahkan sempat menyebut bahwa Real Madrid tertarik merekrutnya di masa depan, terutama karena gaya mainnya yang sesuai dengan filosofi Los Blancos.

    Sebagai pemain asli akademi Liverpool, Alexander-Arnold sudah menorehkan berbagai prestasi: Liga Champions 2019, Premier League 2020, dan berbagai penghargaan individu berkat umpan-umpan briliannya. Jika suatu hari ia benar-benar pindah ke Madrid, maka namanya akan menambah panjang daftar pemain yang menghubungkan dua klub besar tersebut.


    Kesimpulan: Dua Klub, Satu Jalur Kejayaan

    Hubungan antara Liverpool dan Real Madrid tidak hanya terjalin di lapangan, tetapi juga lewat para pemain yang pernah membela keduanya. Dari Owen sang bintang muda Inggris, Alonso sang maestro lini tengah, hingga Arbeloa yang setia dan Şahin yang penuh potensi, setiap pemain meninggalkan jejak unik dalam sejarah kedua klub.

    Kini, dengan munculnya generasi baru seperti Trent Alexander-Arnold, kisah persinggungan antara dua raksasa ini masih terus berlanjut — entah di lapangan, atau mungkin suatu hari, di bursa transfer. Sejarah menunjukkan bahwa Liverpool dan Real Madrid akan selalu terhubung oleh satu hal: keinginan untuk menjadi yang terbaik di dunia sepak bola.

  • The Eagles Terbang Tinggi! Crystal Palace Singkirkan Liverpool Lewat Aksi Sarr

    The Eagles Terbang Tinggi! Crystal Palace Singkirkan Liverpool Lewat Aksi Sarr

    Pada Rabu malam, 29 Oktober 2025, di stadion megah Anfield, Crystal Palace menampilkan performa luar biasa untuk menyingkirkan Liverpool dari babak 16 besar Carabao Cup 2025–26. Skor akhir 3–0 menjadi bukti bahwa The Eagles bukan hanya datang untuk bertahan, tetapi benar-benar mendominasi jalannya pertandingan.


    Latar Belakang Pertandingan

    Laga ini mempertemukan dua tim Premier League dengan ambisi berbeda. Liverpool, sang juara liga musim lalu, berharap memanfaatkan keunggulan kandang untuk melangkah lebih jauh. Namun, tekanan jadwal padat dan rotasi pemain membuat mereka tampil dengan skuat campuran, menurunkan beberapa pemain muda dan pelapis.

    Di sisi lain, Crystal Palace tampil dengan kepercayaan diri tinggi. Di bawah asuhan Oliver Glasner, mereka mulai menunjukkan identitas baru: tim yang solid, efisien, dan berani menyerang. Kemenangan di laga-laga sebelumnya memberi mereka keyakinan bahwa Anfield bisa ditaklukkan — dan malam itu mereka membuktikannya.


    Jalannya Laga

    The Eagles Terbang Tinggi! Crystal Palace Singkirkan Liverpool Lewat Aksi Sarr

    Sejak menit awal, Liverpool mencoba menguasai bola, tetapi permainan mereka tampak kaku. Palace justru lebih tenang dalam menunggu momen untuk menyerang balik. Skema serangan cepat dan terorganisir membuat lini belakang Liverpool kewalahan menghadapi kecepatan Ismaïla Sarr dan rekan-rekannya.

    Menjelang menit ke-41, Sarr membuka keunggulan lewat tembakan akurat ke pojok gawang yang gagal diantisipasi kiper Liverpool. Gol ini memicu kebingungan di kubu tuan rumah yang kehilangan arah permainan.

    Belum sempat pulih, di masa injury time babak pertama, Sarr kembali mencetak gol keduanya. Pergerakannya menusuk dari sisi kanan, melewati dua pemain bertahan, dan menuntaskan peluang dengan tenang. Skor 2–0 membuat Palace menutup babak pertama dengan keunggulan besar dan kepercayaan diri tinggi.

    Babak kedua tidak jauh berbeda. Liverpool berusaha menekan, namun justru Palace yang tampil lebih berbahaya setiap kali melakukan serangan balik. Menjelang akhir pertandingan, Yéremy Pino mencetak gol ketiga yang menutup pesta kemenangan Palace dengan skor 3–0.

    Malam yang pahit bagi The Reds semakin lengkap setelah salah satu pemain muda mereka diusir wasit akibat pelanggaran keras, membuat situasi semakin sulit untuk dikejar.


    Ismaïla Sarr: Bintang yang Tak Terhentikan

    The Eagles Terbang Tinggi! Crystal Palace Singkirkan Liverpool Lewat Aksi Sarr

    Nama Ismaïla Sarr menjadi pusat perhatian di Anfield. Pemain asal Senegal itu tampil luar biasa — cepat, tajam, dan penuh percaya diri. Dua gol yang ia ciptakan bukan hanya menunjukkan ketajaman, tetapi juga kematangan dalam membaca permainan.

    Sarr tampak begitu berbahaya setiap kali memegang bola. Ia memanfaatkan ruang di belakang bek Liverpool dengan cerdas, memaksa lawan untuk terus waspada. Dengan performa seperti ini, Sarr memperkuat reputasinya sebagai “pembunuh raksasa” yang kerap menghukum klub-klub besar di Inggris.

    Bagi Crystal Palace, Sarr adalah sosok pembeda. Setiap sentuhan dan pergerakannya memberikan efek langsung bagi tim, baik dalam menciptakan peluang maupun menjaga tekanan tinggi kepada lawan.


    Analisis dan Implikasi

    Untuk Crystal Palace
    Kemenangan 3–0 di Anfield menjadi tonggak penting dalam perjalanan mereka musim ini. Palace tidak hanya melangkah ke perempat final Carabao Cup, tetapi juga menunjukkan bahwa mereka bisa bersaing dengan tim elit. Disiplin taktik, transisi cepat, dan mentalitas pantang menyerah menjadi kunci keberhasilan mereka.

    Hasil ini juga memperkuat kepercayaan diri Glasner dan para pemainnya. Mereka kini bukan lagi tim yang hanya berharap lolos, tetapi tim yang memiliki visi untuk melangkah sejauh mungkin dalam turnamen domestik.

    Untuk Liverpool
    Kekalahan ini menjadi peringatan keras bagi Arne Slot. Performa tim yang tidak konsisten, kurangnya kreativitas di lini tengah, dan lemahnya koordinasi pertahanan membuat Liverpool tampil rapuh. Rotasi pemain memang perlu, namun kurangnya pengalaman beberapa pemain muda terlihat jelas di laga ini.

    Liverpool kini harus segera bangkit, karena kekalahan seperti ini dapat memengaruhi moral tim menjelang laga-laga penting di Premier League dan kompetisi Eropa.

    Secara kompetisi
    Hasil ini kembali membuktikan bahwa turnamen seperti Carabao Cup selalu penuh kejutan. Tim besar tak selalu bisa menang dengan nama besar, sementara tim-tim seperti Palace mampu menampilkan determinasi dan organisasi yang membawa hasil luar biasa.


    Kesimpulan

    “The Eagles terbang tinggi” bukan hanya ungkapan, tetapi gambaran nyata dari malam bersejarah di Anfield. Crystal Palace tampil sempurna — disiplin dalam bertahan, efektif dalam menyerang, dan mematikan dalam penyelesaian akhir.

    Ismaïla Sarr menjadi simbol kemenangan ini, dua golnya membuka jalan bagi Palace menuju babak berikutnya dan sekaligus mempermalukan Liverpool di hadapan pendukungnya sendiri.

    Bagi Palace, ini adalah malam penuh kebanggaan. Bagi Liverpool, ini adalah tamparan keras untuk kembali fokus dan memperbaiki diri. Satu hal yang pasti: Carabao Cup kembali menghadirkan cerita menakjubkan tentang bagaimana semangat dan strategi bisa mengalahkan status dan nama besar.

  • Prediksi Liverpool vs Crystal Palace: Siapa yang Akan Unggul di Anfield 30 Oktober 2025?

    Prediksi Liverpool vs Crystal Palace: Siapa yang Akan Unggul di Anfield 30 Oktober 2025?

    Pertandingan antara Liverpool vs Crystal Palace pada 30 Oktober 2025 di Anfield Stadium diprediksi akan menjadi salah satu laga paling menarik di pekan ke-10 Premier League musim ini. Liverpool datang dengan ambisi besar mempertahankan posisi di papan atas, sementara Crystal Palace berusaha mencuri poin penting dari kandang yang dikenal paling angker di Inggris.

    Performa Terkini Liverpool

    Prediksi Liverpool vs Crystal Palace

    Liverpool tampil impresif sepanjang awal musim 2025/26. Di bawah asuhan Arne Slot, The Reds kembali menampilkan gaya menyerang agresif yang memadukan pressing tinggi dan permainan cepat di sayap. Kehadiran pemain seperti Mohamed Salah, Darwin Núñez, dan Luis Díaz menjadi senjata utama dalam menciptakan peluang berbahaya.
    Selain itu, lini tengah yang kini diperkuat oleh kombinasi Alexis Mac Allister dan Dominik Szoboszlai memberikan keseimbangan antara kreativitas dan stabilitas. Meskipun begitu, pertahanan Liverpool masih menjadi sorotan — beberapa kali mereka kehilangan konsentrasi di menit akhir yang berujung kebobolan.

    Di kandang sendiri, Liverpool selalu tampil dominan. Dukungan suporter di Anfield memberikan energi besar, dan rekor kandang mereka musim ini nyaris sempurna. Dalam lima laga terakhir di rumah sendiri, The Reds mencatatkan empat kemenangan dan satu hasil imbang.

    Kondisi Crystal Palace

    Prediksi Liverpool vs Crystal Palace

    Crystal Palace datang ke Anfield dengan semangat tinggi meski statusnya underdog. Tim asuhan Oliver Glasner dikenal memiliki disiplin bertahan yang solid dan serangan balik cepat. Pemain seperti Eberechi Eze dan Michael Olise menjadi ancaman utama bagi pertahanan Liverpool dengan kemampuan individu dan kecepatan mereka.
    Palace juga memiliki striker berpengalaman yang mampu mencuri gol dari situasi bola mati. Meski begitu, inkonsistensi masih menjadi masalah utama mereka. Palace sering tampil brilian melawan tim besar, namun kesulitan menjaga performa saat menghadapi tekanan tinggi seperti yang akan mereka hadapi di Anfield.

    Duel Taktik dan Kunci Kemenangan

    Pertarungan ini akan sangat bergantung pada bagaimana Palace bertahan menghadapi tekanan tanpa henti dari Liverpool. Arne Slot kemungkinan akan menurunkan formasi menyerang 4-3-3 dengan menekan sejak awal, sedangkan Glasner mungkin lebih memilih pendekatan 5-4-1 untuk menutup ruang dan menunggu peluang serangan balik.
    Liverpool akan mengandalkan serangan dari sisi kanan yang diisi Salah, sementara Palace harus mengandalkan transisi cepat lewat Olise dan Eze untuk mencuri peluang. Pertarungan di lini tengah antara Mac Allister dan Doucouré akan menjadi penentu ritme permainan.

    Prediksi Skor

    Liverpool diprediksi akan menguasai jalannya pertandingan dengan dominasi bola dan intensitas serangan tinggi. Namun, Palace punya peluang mencuri gol melalui serangan balik cepat atau bola mati. Jika Liverpool mampu mencetak gol cepat, laga bisa berjalan lebih mudah bagi mereka.
    Prediksi akhir: Liverpool 2 – 1 Crystal Palace.

    Kesimpulan

    Pertandingan ini akan menjadi ujian bagi konsistensi Liverpool dan ketangguhan Palace dalam bertahan. The Reds diunggulkan karena bermain di Anfield dengan kualitas pemain yang lebih merata, tetapi Palace bisa saja memberi kejutan jika mampu memanfaatkan kelengahan lawan. Dengan semangat dan dukungan suporter, Liverpool diprediksi keluar sebagai pemenang tipis dalam laga penuh intensitas ini.

  • Kontroversi Panas di Anfield: Liverpool vs Manchester United Berakhir dengan Drama dan Emosi

    Kontroversi Panas di Anfield: Liverpool vs Manchester United Berakhir dengan Drama dan Emosi

    Pertandingan antara Liverpool dan Manchester United memang selalu menjadi salah satu laga paling sengit di sepak bola Inggris. Namun pada pertemuan terbaru di Anfield, seluruh rivalitas tersebut meledak menjadi sebuah pertunjukan penuh kontroversi, emosi, dan—akhirnya—kemenangan dramatis dari United.

    Kontroversi Panas di Anfield

    1. Rekor dan Latar Belakang Rivalitas

    Rivalitas antara Liverpool dan Manchester United bukanlah sesuatu yang bisa dianggap sepele: dua klub besar dengan sejarah panjang saling bersaing, baik secara lokal maupun di kancah domestik dan Eropa.
    Pada pertemuan kali ini, tekanan bagi kedua tim sangat besar. Liverpool memerlukan kemenangan untuk mempertahankan ambisinya di papan atas, sedangkan Manchester United datang dengan tekad untuk meruntuhkan dominasi tuan rumah.

    2. Gol Cepat & Insiden Cedera Kepala

    Hanya dalam waktu kurang dari 70 detik setelah kick-off, Manchester United mengejutkan publik Anfield melalui gol cepat dari Bryan Mbeumo.
    Drama segera muncul: sebelum gol, gelandang Liverpool Alexis Mac Allister tampak tersungkur memegang kepalanya akibat benturan dengan rekan setimnya. Protokol terhadap cedera kepala (head injury) mengharuskan wasit menghentikan permainan — namun wasit tetap membiarkan serangan United berlanjut hingga gol tercipta.
    Hal ini langsung memicu pro-convo di kalangan suporter dan media: apakah keselamatan pemain dikompromikan demi gol cepat?

    3. VAR dan Keputusan Kontroversial

    Pertandingan makin memanas karena beberapa keputusan wasit yang dipermasalahkan:

    • Pada menit ke-18, ada insiden bola mengenai lengan Amad Diallo dari United. Banyak yang merasa bahwa semestinya penalti diberikan untuk Liverpool, namun VAR dan wasit memutuskan sebaliknya.
    • Keputusan tersebut memancing kemarahan suporter Liverpool di stadion, yang merasa bahwa “handball” punya standar yang tak konsisten dalam laga seperti ini.
    • Tak kalah penting: pengangkatan wasit utama Michael Oliver dan tim VAR sebelumnya sudah jadi sorotan karena keputusan-keputusan kontroversial di laga besar lainnya. LiverpoolWorld+1

    4. Liverpool Mendominasi, tapi Tak Menang

    Secara statistik, Liverpool unggul—mereka memiliki hingga 19 tembakan dibandingkan United yang 12. Reuters
    Mereka bahkan berhasil menyamakan kedudukan di menit ke-78 melalui gol dari Cody Gakpo. Namun, dominasi itu tak berbuah kemenangan karena United kemudian mencetak gol kemenangan pada menit ke-84 melalui header dari Harry Maguire.
    Kapten Liverpool Virgil van Dijk sendiri mengakui bahwa gol kedua United adalah hasil dari kecerobohan: “Kami harusnya tidak kebobolan seperti itu.”

    5. Reaksi, Implikasi dan Pelajaran

    • Reaksi emosional: Fans Liverpool merasa dirugikan oleh keputusan wasit dan VAR, terutama soal protokol cedera kepala dan handball. United di sisi lain merayakan kemenangan bersejarah mereka di Anfield yang sudah lama ditunggu.
    • Implikasi tabel: Kemenangan United memberi suntikan moral besar — sekaligus memberi sinyal perubahan momentum di derby ini. Sementara itu, Liverpool yang dominan tapi tak produktif harus mengevaluasi kembali efektivitas penyelesaian akhir maupun konsentrasi pertahanan.
    • Pelajaran besar:
      • Kontroversi teknis seperti cedera kepala dan handball kembali menunjukkan bahwa aturan, interpretasi dan transparansi harus disempurnakan.
      • Dominasi statistik tak selalu menjamin kemenangan — eksekusi di momen krusial dan mental baja tetap menjadi pembeda.
      • Rivalitas besar seperti ini selalu menciptakan beban emosional tambahan—baik untuk pemain, pelatih, maupun suporter.

    6. Kesimpulan

    Laga antara Liverpool vs Manchester United di Anfield kali ini bukan hanya sekadar pertandingan — melainkan drama penuh kontroversi, emosional yang menggelegar, dan pelajaran sepak bola yang mendalam. Dari gol cepat yang didahului cedera, hingga keputusan VAR yang diperdebatkan, hingga kebangkitan United yang mengoyak dominasi tuan rumah — semua elemen konflik dan kehebatan sepak bola terbungkus rapi dalam ~90 menit.

    Bagi para penggemar sepak bola, laga ini akan dikenang bukan hanya karena skor, tetapi karena apa yang terjadi di balik angka. Rivalitas hidup, aturan diuji, dan emosi mengalir deras.